"Serem ya, Mas..?"
"Ah, siang-siang kok serem. Emang kamu takut, Dew..?"
"Engga, asal ada Mas Lolik.." jawabnya sambil menggandeng tanganku.
Lalu dia menarikku lebih masuk ke dalam, tibalah kami di satu sudut ruangan.
"Mas.., Mas Lolik sudah punya pacar belum..?"
"Wah, ngga sempet Dew..," jawabku yang sebenarnya berbohong.
"Dewi boleh ngga jadi pacar Mas Lolik..?"
"Tapi Dew..," tak sempat menyelesaikannya Dewi sudah memotongnya dengan menutup mulutku dan menaruh tanganku di dadanya.
Besar, empuk tapi padat. Awalnya aku tidak ingin sampai.. oh.., namun birahiku pun bergejolak, 'anu'-ku menegang ketika Dewi mulai meremas-remaskan tanganku di payudaranya.
"Dewi ngga cantik toh, Mas..?" tanyanya sambil merangsang manja.
"Bukan.. bukan itu Dew..," namun Dewi terus meremas-remaskan tanganku, benar-benar empuk, padat dan sensasinya begitu nikmat.
Tak kuasa menahan, aku mulai mencium bibirnya sambil meremas-remas sendiri payudara Dewi.
Kunikmati ciumannya yang hot sambil menutup mataku. Dewi lalu menarik tangan kiriku dan memasukkannya ke bawah roknya. Pertama aku berpikir akan menyentuh halusnya celana dalam Dewi. Ternyata kasar dan itu adalah rambut..! Dewi sudah menurunkan celana dalamnya ketika kami berciuman. Sempat kaget aku dibuatnya, namun tanpa basa-basi aku langsung memainkan jariku di sepanjang kemaluannya dan menjelajahi hampir tiap helai rambutnya yang lebat. Kemaluannya pun kian membasah, mengalir cairan kental dari dalam vaginanya. Jari semakin tangguh bermain di tengah beceknya kemaluan Dewi.