Melihat pantatnya yang membujur besar padat membuat 'anu'-ku menegang. Bahenol sekali pantatnya. Belum lagi ketika dia menyamping dan buah dadanya yang ranum terlihat. Aku hanya dapat menelan ludah melihatnya jebar-jebur sambil memegangi adik kembarnya. Jadi pengen megang juga. Tapi karena sudah tidak tahan, aku langsung masuk ke dalam WC dan melepas bebanku.. aahh legaa..
Entah apa yang ada di pikiranku, padahal kalau mau ngintip terus aku bisa saja, tapi aku menunggu di dalam WC sampai Dewi selesai mandi baru aku keluar. Gendut-gendut sexy juga tuh cewek. Kalo bukan sepupu kali sudah kutembak. Selesai makan siang, Bude As menyuruh Dewi mengajakku jalan-jalan ke ladang tebu. Walaupun panas tapi rasa tetap segar dapat jalan berdua bersama Dewi.
"Kamu baru setahun ini di sini ya, Dew..?"
"Iya, Mas. Bapak sama Ibu di Jakarta, jadi aku ikut Bude."
"Di sini sama Jakarta enak mana..?"
"Ya enak di Jakarta, kalo mo jalan-jalan banyak tujuannya."
"Kamu sudah punya pacar belum..? Nanti pacarmu marah lagi liat kamu jalan sama aku.." pancingku.
"Engga toh, Mas. Aku belom punya pacar. Lagian siapa yang mau..?"
"Masak cantik kayak kamu nggak ada yang mau..?"
Dewi hanya tersenyum saja.
Menyusuri pematang, kami berdua sepertinya bahagia sekali, tak jarang kami tertawa dan bergandengan tangan. Dua jam kami berjalan, sampailah kami di sebuah stasiun tua tempat pengangkutan tebu, tapi sepertinya sudah lama tidak digunakan lagi. Dewi mengajakku masuk melihat-lihat ke dalam.