Tapi
malam ini Sarah berpenampilan lain, tanpa jilbab/kerudung! Rambutnya
yang tak pernah terlihat, dibiarkan terurai. Demikian juga dengan
bajunya, Sarah memakai daster diatas lutut yang sekilas cukup menerawang
dan hanya dilapisi oleh kimono panjang yang tidak dikancing. Sehingga
dimata Aku, Sarah seperti bidadari yang turun dari khayangan. Cantik dan
mempesona. Mungkin begitulah pakaiannya kalau tidur.
“Gambar tivinya jelek ya?” tanya Sarah mengagetkan Aku.
“Eh, iya. Antenenya kali” jawab Aku sambil menunduk.
Aku semakin berdebar ketika perempuan itu duduk disebelahnya sambil
meraih remote control. Tercium bau harum dari tubuhnya membuat hidung
Aku kembang kempis. Lutut dan sebagian pahanya yang putih terlihat jelas
menyembul dari balik dasternya. Aku menelan ludah.
“Semuanya jelek”, kata Sarah, “Nonton VCD saja ya?”.
“Terserah Teteh” kata Aku masih berdebar menghadapi situasi itu.
“Tapi adanya film unyil, nggak apa?” kata Sarah sambil tersenyum menggoda.
Aku faham maksud Sarah tapi tidak yakin film yang dimaksud adalah film porno.
“Ya terserah Teteh saja” jawab Aku.
Sarah
kemudian bangkit dan menuju kamar anaknya. Aku semakin berdebar,
dirapikan kain sarungnya dan disadari dibalik sarung itu Aku cuma pakai
celana dalam. Diteguknya air digelas. Agak lama Sarah keluar dari kamar
dengan membawa kantung plastik hitam.