Selesai mandi aku pun ke dapur, kalau bisa sih ingin langsung makan. Waktu di dapur, yang kutemui bukannya nenekku, tapi seorang gadis, memakai daster hijau sedang berjongkok dekat sumur. Mencuci piring kali yah..? Terlihat dari sini badannya gemuk, tapi pantatnya.. waahh.. Asoy geboy.. gedebuk enjoy.. weleh-weleh.. Aku pun terkesima sesaat, namun..

"Ngeliatin opo toh, Lik..?" tanya nenek mengagetkanku dan membuyarkan fantasi meraih..

"Eh.., Embah. Itu siapa toh, Mbah..?" tanyaku.

"Itu Dewi, anaknya Om Sabar, adiknya Bude-mu As, sekarang dia ikut Bude-mu."

"Jadi ya masih sepupuku..?"

"Iya toh..?" jawab nenek.

Dewi pun berbalik melihatku, manis juga. Apalagi disambung sama senyuman yang manis itu. Sepetinya sih dia pemalu. Lalu aku dikenalkan sama dia. Saat aku makan, sepertinya dia beberapa kali memandangku dari seberang sana sambil memotongi sayur. Ketika aku membalasnya dia langsung memalingkan pandangannya. Manis juga sepupuku yang satu ini, walaupun gemuk dan terlalu besar untuk anak kelas dua SMP.

Lalu sebuah cerita terjadi, semuanya bermula ketika keesokan harinya aku ke rumah Bude As. Aku pingin pipis, duh.. kebelet banget. Aku langsung lari ke kamar mandi. Kamar mandi memang agak aneh, karena tidak berpintu namun seperti masuk ke dalam ruangan yang disekat-sekat, hanya WC yang ada pintunya. Karena sudah kebelet banget aku langsung masuk ke dalam ruangan yang ruang antaranya cukup gelap. Ternyata Dewi ada di sebelah dalam dekat bak dan membelakangiku. Jarak kami sekitar dua sampai tiga meter. Dengan bengong aku memandangi dari atas ke bawah tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun alias telanjang bulat.