“Eh, Teteh belum tidur? Keberisikan ya?” tanya Aku tergagap
“Ah, tidak apa-apa. Saya belum tidur kok” jawab perempuan itu dengan logat Sunda yang kental.
Yang
membuat Aku kaget sebenarnya bukan kedatangan perempuan itu, tapi
penampilannya yang luar dari kebiasaanya. Sehari-hari Sarah, seperti
kebanyakan ibu rumah tangga di kota ini, selalu berkerudung rapat.
Sehingga hanya wajahnya saja yang terlihat. Dan itulah yang pada awalnya
membuatnya tertarik kost dirumah ini ketika bertamu pertama kali dan
bertemu dengan Sarah.
Dengan berkerudung justru semakin
menonjolkan kecantikan wajah yang dimilikinya. Dengan alismatanya yang
tebal terpadu dengan matanya yang bening indah, hidungnya mancung bangir
dan bibirnya yang merah merekah. Dengan postur tubuh dibalik bajunya
terlihat tinggi serasi.Entah mengapa Aku selalu tertarik dengan
perempuan cantik berkerudung.
Pikiran nakalnya adalah apa yang
ada dibalik baju yang tertutup itu. Dan pada saat itupun pikiran
kotornya sempat melintas mencoba membayangkan Sarah tanpa busana. Tapi
pikiran itu dibuangnya ketika bertemu dengan suaminya yang terlihat
berwibawa dan berusia agak lebih tua dari Sarah yang masih dibawah
tigapuluh tahun. Akhirnya jadilah Aku kost di paviliun disamping rumah
tersebut dan pikiran kotornya segera dibuang jauh, karena Aku segan pada
Pak Totok. Tapi secara sembunyi Aku kadang mencuri pandang
memperhatikan kecantikan Sarah dibalik kerudungnya dan kadang sambil
membayangkan ketelanjangan perempuan itu dibalik bajunya yang tertutup,
seperti tadi.