Mereka yang lebih sering berhubungan seksual, menurut studi ini, terbukti bisa menjalani tes tersebut dengan lebih baik.

Dituturkan The Independent, orang yang paling aktif berhubungan seks juga mendapat hasil lebih baik dalam tes visual, meliputi penyalinan ulang sebuah desain gambar yang kompleks atau clock-drawing test. Namun perbedaan pada tes visual ini tidak sebesar pada tes verbal.

Akan tetapi para peneliti masih belum yakin mengapa ada hubungan antara aktivitas seksual dengan kekuatan otak. Mereka menyatakan ada kemungkinan seks berhubungan dengan keluarnya neurohormon seperti dopamin atau oksitosin yang mengirim sinyal kepada otak.

Dopamin berperan penting dalam mendorong otak manusia untuk belajar dan mungkin memacu kemampuan kognitif tertentu. Lebih sering berhubungan seks akan meningkatkan ketersediaan dopamin di otak dalam jangka waktu panjang dan mungkin hal itu yang memacu kemampuan-kemampuan tersebut.

"Kami baru bisa berspekulasi apakah ini didorong oleh elemen sosial atau fisik. Namun area yang ingin kami teliti lebih lanjut adalah mekanisme biologi yang mungkin memengaruhi ini," kata Dr. Hayley Wright.

Wright memaparkan, setiap penelitian akan membawa mereka lebih dekat untuk bisa memahami apakah memang ada hubungan antara kegiatan seksual dengan fungsi kognitif orang yang telah uzur.

"Manusia tak suka membayangkan orang tua itu berhubungan seks. Kita perlu menantang konsepsi itu pada tingkat sosial dan melihat dampak baik yang bisa dihasilkan aktivitas seksual kepada mereka yang berusia di atas 50 tahun, selain dampak yang telah diketahui seperti kesehatan seksual dan kebugaran," tutur Wright.