Kemudian dengan sangat cepat Pak Gatot melepas kaos dan celana panjang sambil berdiri di sebelah ranjang. Aku langsung menahan napas panjang melihat tubuh Pak Gatot yang hanya tinggal memakai celana dalam saja. Meski sudah berusia 51 tahun, katanya, tubuh hitam Pak Gatot masih berotot dan tampak tegap. Aku agak merinding melihat sekujur tubuhnya yang agak berbulu dan wajahku hanya bisa melongo melihat tonjolan besar di balik CD Pak Gatot. Kok bengong? tegur Pak Gatot sambil tersenyumsenyum. Um.. anu Pak.. eh.., reaksiku benarbenar seperti anak kecil yang kebingungan.
Nggak usah malumalu, Bapak yakin kamu pasti pengen lihat kontol Bapak ini kan, ujarnya lagi menggoda. Ayo sini.. tambahnya. Dengan wajah khasku yang memerah bila malumalu, aku turun dari ranjang sementara Pak Gatot duduk di tepi ranjang. Pak Gatot membuka pahanya lebarlebar dan menyuruhku duduk bersimpu lutut di antaranya. Kamu dulu pernah nyedot kontol mantan pacarmu? tanya Pak Gatot. Wajahku tambah merah mendengar bahasanya yang kasar, tapi mungkin karena sudah 200% takluk, aku tambah berdebardebar. Belum pernah Pak, Leni nggak berani, jawabku. Mm.. jadi kamu bisa belajar pake kontol Bapak, balasnya.
Wajahku merah padam seperti mati kutu, dan Pak Gatot semakin menjadijadi menggodaku. Tapi kamu pasti pernah nonton BF kan? tanyanya. Aku langsung mengiyakan dengan mengangguk pelan mengingatingat beberapa kali pernah menonton film porno bersama tementemen cewekku. Kalo gitu ya kamu pasti bisa Leni, dan mulai sekarang kamu nggak usah malumalu, he he he, balasnya sambil tertawa. Tibatiba Pak Gatot memegang belakang kepalaku dan menarik kuncir rambutku yang masih terpasang sebelumnya. Rambut hitam panjangku yang agak bergelombang terurai di bahuku. Kamu cantik dan seksi sekali Leni sayang, katanya sambil memandangi wajahku.
Aku tersenyum sipu sementara Pak Gatot memegang kedua tanganku dan menaruhnya di pinggangnya. Kemudian Pak Gatot sedikit mengangkat pinggulnya. Ayo diplorotin, kalo pengen lihat kontol Bapak nggak usah sungkan, candanya lagi. Dengan bantuannya aku mulai menurunkan CDnya hingga ke paha dan mataku langsung terbelalak lebar ketika senjata Pak Gatot bebas dari sarangnya. Kontol Pak Gatot ternyata begitu indah meski tampak menyeramkan.