Sebelumnya, Perkenalkan Namaku Leni. Aku Adalah Pelajar SMA Kelas 3 dengan Usia 17 tahun saat ini disalah satu sekolah Negeri di Pekanbaru. 

Saat ini Aku baru putus dengan pacarku, dan sedang berjuang berkonsentrasi untuk kelulusanku yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian. Aku tergolong murid yang rajin dan nilainya cukup baik, namun pada mata pelajaran eksakta seperti matematika, kimia dan fisika, aku sering kesulitan sampai terkadang stres. Tapi karena dorongan keluargaku yang pas-pasan, disekolah aku memilih jurusan IPA karena aku beranggapan jika memilih kuliah seperti di jurusan teknik maka nantinya akan mendapat gaji lumayan bila sudah bekerja. Dan salah satu kekhawatiranku terbukti, dengan nilai2 ulangan kimiaku super jeblok.

Hal ini membuat Aku khawatir tidak lulus, sehingga pada suatu siang sepulang sekolah, aku memberanikan diri menemui Pak Gatot, guru kimiaku yg juga sekaligus wali kelasku. Pak Gatot berusia 50 tahunan, dari suku Jawa, tingginya sekitar 170an, dengan perawakan besar dan hitam, wajahnya agak sadis dan tegas, terkenal sebagai guru killer, namun kata teman-teman orangnya baik bila ada murid yang minta bantuan. Saat itu Pak Gatot telah selesai mengajar di satu kelas dan sedang memberes-bereskan barangnya saat kutemui. "Pak Gatot, boleh saya bicara sebentar", kataku. Pak Gatot hanya melihat sepintas ke arahku, sebelum menjawab cepat dengan nada sedikit membentak, Ada apa? Aku mulai menjelaskan permasalahanku dan kekhawatiranku. Aku menyampaikan bahwa aku berniat meminta tugas-tugas tambahan untuk mendongkrak nilaiku. Tapi Pak Gatot menolaknya dan menawarkan les privat seminggu dua kali di rumahnya.

Aku langsung menyetujuinya tanpa berpikiran apaapa. Ok, nanti sore kamu ke rumah saya jam 4, ujar Pak Gatot dengan nada memerintah. Baik Pak, saya bisa, terima kasih, jawabku sambil pamit pulang. Tepat jam 4 setelah naik kendaraan umum aku tiba di rumah Pak Gatot yang berlokasi di perumahan cukup elit, baru dibangun dan sepi. Kabarnya Pak Gatot memiliki pekerjaan lain yang cukup memadai, sehingga meskipun guru tapi rumahnya bagus. Setelah melepas sandal dan masuk ke ruang tamu di rumahnya, aku dipersilahkan duduk di sebuah sofa yang besar dan empuk. Rumahnya bagus juga, tapi kok sepi ya, pikirku. Aku beranikan diri bertanya, sendirian di sini Pak? Iya, memangnya kenapa? jawabnya dengan sedikit gusar. Oh gak apa-apa Pak, kataku. Pak Gatot kemudian menjelaskan bahwa anakanaknya kuliah di luar kota, dan istrinya kerja sebagai suster dari sore sampe malam di sebuah rumah sakit.